Sabtu, 25 Januari 2014

Kakakku Jahat Kakakku Peduli


 Hari ini seperti biasanya, kami sekeluarga selalu makan malam dirumah . Ayahku selalu  berpesan sesibuk-sibuknya pekerjaan atau aktivitas kita diluar rumah paling tidak harus menyempatkan diri untuk makan malam bersama, karena saat itu adalah waktu yg tepat untuk berkumpul. Dan sesekali pada malam minggu, kami sekeluarga makan diluar untuk mencari suasana yang berbeda. Bisa dibilang keluargaku cukup berada, tidak kekurangan, tidak kelebihan, tetapi cukup. Namaku adalah Dena Sagita, usiaku baru 16 tahun, kulitku sawo matang dan mempunyai rambut lurus sebahu. Ibuku adalah wanita tercantik dinegeri ini, walaupun diwajahnya banyak garis penuaan dan rambut putih, namun beliau selalu nampak lebih muda dari usianya, ibuku bernama Chatarina Wardani. Ayahku adalah orang yang hebat dan berwibawa. Ayah selalu tahu apa yang diinginkan anak-anaknya, serta tahu mana yang tidak baik untuk keluarganya. Ayahku bernama Sigit Perwiro.
“Ibu, masakan malam ini beda yaa rasanya!!” ucapku sambil melahap sayur sop dan perkedekel kornet yang tampak lezat. “Apa bedanya yaa nak?” tanya ibu mengernyitkan dahi. “Ini semua kan makanan kesukaanku bu. Aku ajah mau nambah lagi nih bu hehehe” ku sunggingkan senyum manisku untuk ibu yang telah memasak makanan kesukaanku. Ayah menyambar ucapanku “Dena masakan ibumu itu cuma ada dua rasa.” “Hmmm apa itu yah?” tanyaku sambil terus mengunyah nasi yang masih penuh dimulut. “Sepertinya jwabannya akan tidak mengenakan hati ini nih” tuduh ibu kepada ayah dengan muka masamnya. “Ibu ini perasaan saja. Masakan ibu itu yang pertama rasanya enak dan satunya lagi enaaakk bangeeett” jawab ayah sambil mengedipkan matanya kepadaku. “Hahahaha cieee ayah gombalin ibu nih yaaa hahahaha…..” Kami pun tertawa bersama dan aku pun teringat dengan kakak yang tak kunjung datang untuk makan malam bersama kami.
Terdengarlah suara ketukan pintu dan membuyarkan semua tawa kami. Seorang pria bertubuh atletis, bermata besar, dan rambut gondrong menutupi telinga masuk kerumah. Yaaap, dialah  kakakku yang bernama Farid Nugroho. “Maaf yah, aku datang terlambat lagi.” ucapnya dengan nafas yang memburu. “Kamu ini selalu saja begini, dasar manusia kesiangan ehh maksud ayah manusia kemalaman ckckck.” “Yaa sudah ayo kamu makan dulu Rid.” sela ibu memecahkan suasana. “Ibu aku tadi sudah makan bersama teman-teman, maaf untuk yang kedua kalinya karena Farid tidak ikut makan.” jawab kakak dengan santainya. “Kak Farid, ayo lah makan dulu sebentar, menunya maknyooss deeh. Nanti nyesel deeh lu kalo sampe kelewatan.” ajakku kepada kakak. “Nggak ahh dek, gw mau tidur. Nanti kalo gw laper juga akan makan kok !!” jawab kakak dengan nada tinggi. Kakak pun meninggalkan ruang makan dan langsung mengurung dirinya di kamar. “Tuh kan yah, kenapa sih kakak selalu ketus sama Dena. Aku kan juga ingin merasakan punya kakak yang perhatian sama adiknya seperti teman-teman aku.”
Aku segera menghabiskan makan malamku tanpa berbicara lagi. Begitulah kakakku. Entah apa yang ada dipikiranya. Apakah dia menganggapku adik atau bukan? Apakah dia sudah tidak mempunyai rasa kekeluargaan lagi?? Aahhhh sudahlah, jangan berpikiran negatif. Kakak bertindak begitu pasti ada maksudnya, aku yakin itu. Semua pemikiran ini pun akhirnya membuatku lelah hingga mata pun akhirnya terpejam dan beristirahat tak melakukan aktivitas.
Keesokan paginya aku harus bergegas ke sekolah. Aku sudah siap memulai hari ini. Ku tunggu kak Farid agar kami bisa berangkat bersama karena kampus kak Farid searah dengan sekolahku. Kak Farid pun kelar dari kamar mengenakan baju biru laut yang memberikan kesan feminim bagi dirinya. “Kak ayo berangkat bareng.” pintaku dengan nada manja. “Ihh manja banget sih lu, angkot kan masih banyak, lagi pula gw ada kelasnya baru jam 9. Kepagian tau !!” jawab kakak sambil makan sepotong roti. “Aahh bohong lu kak. Bilang ajaah emang lu nggak mau ngaterin gw kan kak?” tuduhku dengan nada tinggi. “Nah lu tuh udah sadar diri, yaudah sana berangkat. Malu gw kalo bareng lu.” #jleb ucapan kakak langsung meresap dihatiku. Haaahhhh aku pun menarik napas dan lekas pergi meninggalkan dia tanpa berkata sepatah kata pun. “Hati2 dijalan yaa Dena adikku sayang.” terdengar suara samar-samar kakak dari kejauahan. “Ibu aku berangkat sekarang yaa.” ucap kakak, dan dibalas anggukan oleh ibu.
Sumpah yaa, kak Farid itu ngeselin banget. Dia itu manusia atau bukan sih atau manusia setengah dewa?? Haahhh ngarep !!! Kak Farid, gw ini tuh adik lu, bisa nggak sih lu sedikit ajah baik sama gw. Gw itu pengen punya kakak yang bisa menjaga adiknya. Lu itu kakak gw apa bukan sih?? Itulah raungan dihatiku. Akhirnya aku pun naik kopaja yang sesaknya minta ampun. Dan aku pun kesiangan, beruntung aku masih diperkenankan mengikuti pelajaran. “Kenapa lu Den?” tanya teman sebangkuku yang bernama Jessy. “Sebenernya sih nggak kesiangan, tapi gara2 kakak gw nggak mau bareng berangkatnya jadi nggak keburu deh” jawabku dengan muka asam. “Tega banget sih kakak lu, untung kakak gw masih baik yaa. Dia mah mau-mau ajaah nganterin gw ke sekolah.” ucap Jessy kepadaku. Aku pun tak menghiraukan lagi apa yang dibicarakan Jessy, aku iri sama dia. Coba aku yang ada diposisi Jessy, pasti menyenangkan mempunyai saudara kandung yang asik. Aku merasa tidak punya kakak sekarang.
Hari ini pun berlalu dengan cepat tanpa ku sadari. Seperti biasa kami makan malam bersama dan lengkap semua anggota keluarga hadir. Kemudian aku pun langsung tidur karena besok harus ke sekolah lagi. Dan keesokan paginya, aku pun tak menyerah mengajak berangkat bersama kakak. Dan alhasil nol besar !!! Padahal kakak sudah keluar kamar dan bergegas akan berangkat juga, tetapi dia malah masuk kamar lagi dan ku pikir sudah tak mungkin untuk hari ini. “Bu, aku berangkat yaa.” Teriakku kepada ibu yang ada diruang tamu dengan suara keputuasaan. Dan lima menit sesudah ku berangkat ke sekolah, kakak pun berangkat juga. Heran sekali saya dengan kak Farid huhuhu
Sesampainya disekolah, aku pun melihat Jessy diantar oleh kakaknya ke sekolah. Dalam hatiku beruntungnya dia punya kakak seperti dia, sudah ganteng, peduli lagi sama adiknya. Kalo dibandingin sama kak Farid mah, 180’ derajat deeh. “Hey Dena, ayoo masuk kelas sama-sama.” sapanya dengan wajah pamer. Aku pun hanya mengangguk saja. Pelajaran hari ini pun telah usai. Aku menunggu bus dihalte. Lama sekali bus ini datang, hingga ku mengantuk. Kemudian dari kejauhan ku lihat sosok laki-laki yang wajahnya familiar sambil mengendarai motor lakinya. Yaap benar, itu kakak, itu kak Farid. Langsung saja ku teriak “Kak Farid, kakak, bareng !!  Kak, kak Fariiidddd !!” tapi apa kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia hanya melambaikan tangan kirinya, tersenyum dan kemudian buang muka terhadapku. Haaahhhh sungguh kakak yang tega sekali terhadap adiknya. Sesampainya dirumah ternyata kak Farid tidak ada, justru aku yang tiba duluan dirumah. Barulah sepuluh menit kemudian kak Farid tiba dirumah. Ketika dia baru menginjakkan kaki didepan rumah, langsung saja ku hujat dengan cacian maki untuk kakakku. Tidak peduli aku membangunkan ibu yang sedang tertidur pulas. Aku sudah sangat kesal dengan tingkahnya yang tidak berperasaan itu. Tetapi kakak hanya tersenyum miring dan membuatku semakin kesal. Aku pun langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kamar hingga membuat ibu keluar dari kamarnya.
Besoknya pun ketika aku berangkat ke sekolah kakak sudah siap dengan motornya. “Dena, mau berangkat bareng nggak??” ajak kakak ku dengan wajah manis serigala. “Dasar PHP lu kak !!” jawabku dengan ketus. “Yeee serius nih, kalo nggak yaudah gapapa deeh. Sadar diri berarti lu.” Aku mencoba tak membalas perkataan kak Farid. Ku hiraukan begitu saja, dan aku pun berpamitan dengan ibu dan ayah. “Jadi beneran nggak mau nih?? Yaudaah hati-hati dijalan yaa Dena Sagita adikku yang paling manis.”  Ku dengar dari kejauhan kak Farid pun berpamitan dengan ibu. Cihhh kata-kata apa itu yang barusan ku dengar, tak peduli lah. Aku sudah tak menganggap lagi deeh dia kakak ku atau bukan. Dan aku juga nggak mau punya kakak yang nggak ada baik-baiknya sama sekali sama adiknya.
Sungguh hari ini sungguh melelahkan, disekolah tadi semua mata pelajaran ada ulangan. Untung aku mengerjakan soalnya dengan baik. Untung jawabannya tadi tidak ku isi dengan kak Farid kak Fraid eehmmm. Nanti sore aku ada tugas kelompok dirumah Jessy dan kebetulan rumahnya dia tak jauh dari kampus kak Farid. Kali ini aku akan meminta dengan sangat kepada kak Farid untuk mengantarkanku. Ketika sampai dirumah, ku lihat kak Farid sedang menonton tv. Langsung saja ku dekati. “Kak Farid, tadi pagi kan lu mau ngaterin gw kesekolah, tapi nggak jadi. Gimana kalo sekarang anterin gw kak ke rumah temen gw deket kampus lu kak.” “Nggak liat apa lu gw lagi sibuk.” Jawab kakak dengan suara tinggi. “Kak sekali ajaah kak, anterin yaaa. Aku nggak tau daerah sana soalnya.” “Bisa diem nggak sih lu??” Aku pun sontak langsung kaget. “Gw nggak mau, kan udah dibilang gw malu. Lagian lu tuh udah gede, umur lu kan udaah mau 17 tahun. Masa begitu ajaah nggak berani, jangan manja dong. Dulu pas gw segede lu, gw kemana-mana sendiri. Atau lu nggak punya ongkos?? Nih gw kasih deeh. Bawel banget sih lu jadi adik.” jawab kakak dengan panjang lebar  sambil melemparkan uang sepuluh ribu dari sakunya.
Aku pun langsung pergi ke rumah temen tanpa pikir panjang dan ku acuhkan ucapkan ka Farid. Kemudian kak Farid pun juga berpamitan entah ingin pergi kemana. “Bu, aku pergi dulu yaa.” “Hey, mau kemana kamu Farid??” tanya ibuku dan tak dihiraukan oleh kakak. Sungguh, kata-katanya sangat menyakitkan. Padahal kan aku hanya pinta itu saja. Dena Dena Dena lu nggak boleh nangis Den, kakak lu emang begitu. Jadi udah biasa kan harusnya digituin. Tanpa ku sadari kata-kata menyemangati diriku sendiri malah membuat air mata ini keluar. Sungguh aku tidak menyangka kak Farid berbuat begitu. Bodohnya aku terlalu perasaan, semua perkataan yang orang bicarakan pasti langsung masuk ke hati. Apalagi omongan dari orang-orang yang ku sayang. Karena malu sedang ditempat umum, aku buru-buru menghapus air mata ini.  Rumah temanku hanya disebrang jalan dari posisiku berdiri sekarang, ku tengok kanan kiri akhirnya aku pun menyebrang karena sepi. Tak ku sangka sesuatu yang besar berwarna merah menabrakku dari kejauhan, rasanya sakit sekali, dingin dan lama kelamaan aku tidak merasakan apa yang kurasa. Mata ku pun akhirnya mulai terpejam, satu hal yang terakhir ku lihat. Terbayang wajah kak Farid yang memanggil namaku dengan muka panik, sedih, dan rasa bersalah.
Dan ketika mataku sudah mulai terbuka lagi, ternyata aku sudah berada di rumah sakit dikamar UGD dengan infus, alat pernapasan, serta kakiku yang patah. Ku lihat ayah, ibu dan kak Farid berada disampingku. Tangan hangat ibu memegang tanganku dengan muka haru. Mereka kemudian menceritakan apa yang terjadi dan aku baru mengetahuinya bahwa aku sudah terlelap selama hampir tiga hari. Kemudian kak Farid mulai berbicara. “Dena, maafin kakak lu ini. Coba seandainya waktu itu kakak nganter kamu, pasti nggak akan begini jadinya. Kakak nyesel banget, kenapa waktu itu nolak pinta Dena.” “Sudah nggak apa-apa kok kak, toh ini semua kan sudah terjadi. Dena ngerti kok gimana perasaan kakak.” Jawabku dengan lembut dan tersenyum. Kak Farid pun melanjutkan bicara “Sebenernya, apakah kamu tahu Dena, setiap hari itu kakak selalu ikuti kamu kemana pergi. Pada waktu kamu berangkat ke sekolah, kakak mengawasimu dari kejauhan memastikan apakah kamu baik-baik saja. Ketika kamu pulang sekolah pun, kakak menunggumu dari kejauhan. Dan sampai pada saat terakhir kamu pergi kerumah temanmu itu, kakak pun bergegas pergi mengendarai motor mengikutimu dari belakang dan sekali lagi mengawasi apakah adikku akan baik-baik saja. Kakak pun nggak menyangka ternyata mengawasimu saja tak cukup.” Tanpa ku sadari mata ini pun berlinang air mata, ternyata kakak peduli terhadapku, yaa dia sayang dengan adiknya walaupun dia tak mampu mengungkapkannya.
Kakak pun melanjtkan kembali ucapannya “Kakak sadar, kakak salah. Kakak berbuat seperti ini, karena ingin membuat kamu belajar lebih dewasa dan lebih mandiri. Kakak mohon, semoga kamu masih mau menganggap aku sebagai kakakmu ini, walaupun pernah membuat celaka seperti ini. Kakak mengerti mengawasi kamu saja tidak cukup, tetapi kakak harus extra kuat menjaga adikku yang manja ini. Mulai sekarang pinta apa saja kepada kakak, tapi jangan yang aneh-aneh yaa.” Ucap kakak panjang lebar sambil mengusap rambutku. Ayah dan Ibu pun saling berpandangan dan tersenyum lebar.
Tak ku sangka ternyata pemikiran negatif ku terhadap kakak berubah 180’. Ternyata kakak sayang padaku. Dia tidak jahat, tetapi dia baik karena ingin membuatku menjadi anak perempuan yang mandiri. Kakak selalu mengawasiku kemanapun aku pergi. Aku beruntung punya kakak seperti dia. Aku tahu kakak itu sebenarnya orang yang baik, tetapi dia tak mau menunjukkan kebaikannya kepadaku. Hingga aku harus menderita dulu, barulah kakak sadar hehehe. Dan sejak saat itu, kakak tak pernah menolak permintaanku, dia selalu siap mengantarku kemana saja, yaah walaupun memang sifat ngeselinnya masih ada. Aku merasa, aku lah orang yang paling bahagia didunia ini. Aku punya ayah dan ibu yang sangat perhatian dan tak lupa aku punya kakak yang paling baik  dan lebih perhatian dari siapapun. Aku sayang kalian semua ayah, ibu, dan kak Farid. Aku beruntung terlahir di keluarga ini.

Kamis, 14 November 2013

INOVASI LIDAH BUAYA

INOVASI LIDAH BUAYA



Lidah buaya atau biasa disebut Aloe Vera. Mempunyai nama latin Aloe Barbadensis Milleer. Termasuk dalam family Liliaceae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah Letah Buaya (Sunda) dan Ilat Baya (Jawa). Dan nama Asing lainnya seperti Waan Famai (Thailand), Salvila (Spanyol), Laloi (Perancis), Jadam (Malaysia), Lu Hui (china). Adalah sejenis tumbuhan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam. Tumbuhan ini bisa ditemukan dengan mudah di kawasan kering di Afrika. Dalam Farmakologi Aloe Vera memiliki sifat rasa pahit dan dingin. Daun berdaging tebal dan banyak mengandung lendir atau gel. Dari lebih 300 jenis Aloe, hanya tiga jenis yang diusahakan secara komersial, yaitu Aloe Vera, Aloe Perryi dan Aloe Ferox. Diantara ketiga jenis Aloe tersebut , hanya jenis Aloe Vera yang paling berpotensi untuk dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan industry farmasi, pangan dan kosmetik.

Lidah buaya (Aloe Vera) adalah tanaman yang berasal dari luar negeri dibawa ke Indonesia oleh pedagang Arab beberapa ratus tahun yang lalu. Aloe Vera yang banyak dibudidayakan di Indonesia sekarang ada 3 jenis, yaitu Aloe Vera Chinensis dari Cina (tetapi bukan tanaman asli Cina), Aloe Vera Barbadensis yang berasal dari Pulau Barbados di Kep.Carribia dan Aloe Ferox dikenal sebagai Cape Aloe dari Cape Town Afrika Selatan. Aloe Vera Barbadensis adalah yang terbaik untuk dibudidayakan karena lebih tahan terhadap hama dan penyakit, ukurannya jauh lebih besar dibanding jenis lainnya. Berat satu pelepah daun yang digunakan berkisar abtara 0,8kg – 1,5kg. Aloe Vera adalah tanaman yang tidak tahan lahan basah dan tergenang air serta memerlukan sinar matahari penuh. Negara kita yang beriklim tropis merupakan lingkungan yang sangat sesuai untuk pertumbuhan Aloe Vera. Tanaman Aloe Vera meskipun bukan merupakan tanaman asli Indonesia ternyata dapat tumbuh baik di Negara kita, bahkan di Propinsi Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak, tanaman ini beradaptasi jauh lebih baik dari pada ditempat lainnya. Hal ini diakui oleh pakar Aloe Vera mancanegara yang karenanya juga turut menyayangkan bilamana keunggulan komparatif yang dimiliki oleh tanaman ini tidak dimanfaatkan oleh Indonesia.

Secara umum Aloe Vera merupakan satu dari 10 jenis tanaman terlaris di dunia yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai tanaman obat dan bahan baku industri.  Berdasarkan hasil penelitian tanaman ini kaya akan kandungan zat-zat seperti enzim, asam amino, mineral, vitamin, polisakarida, dan komponen lain yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan kimia dalam Aloe Vera berupa Aloin, Barbaloin, Isobarbaloin, Aloe-emodin, Aloenin, Aloesin. Kandungan zat gizi dalam Aloe Vera berupa Vitamin A, B1, B2, B3, B12, C, E, choline, inositol, lemak dan asam folat. Kandungan mineralnya antara lain terdiri dari Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Potasium (K), Sodium (Na), Besi (Fe), Zinc (Zn), dan Kromium (Cr). Sedangkan daun Aloe Vera segar mengandung enzim amilase, catalase, cellulase, carboxypeptidase, dan lain-lain. Serta mengandung sejumlah asam amino arginin, asparagin, asam aspartat, alanin, serin, valin, glutamate, treonin, glisin, lisin, prolin, hisudin, leusin dan isoleusin. Cairan lidah buaya mengandung unsur utama, yaitu aloin, emodin, gum dan unsure lain seperti minyak atsiri. Senyawa-senyawa gula juga terdapat pada lidah buaya dalam bentuk mannosa, glukosa, serta jumlah kecil silosa, arabinosa, galaktosa, ramnosa serta enzim-enzim oksidase.

Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan daun, bunga, akar dan pemakaian segar. Tanaman yang pada awalnya dikenal sebagai pencahar, penumbuh rambut, dan obat luka bakar kini telah berkembang jadi minuman kesehatan. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, produsen kosmetika terkenal seperti Avon, Oriflame, Mustika Ratu, Sari Ayu Martha Tilaar dan produsen kosmetika lainnya juga menawarkan berbagai produk yang mengandung Aloe Vera. Sejak tahun 1988 tanaman Aloe Vera mulai diolah sebagai minuman koktail dan merupakan sumber penghasilan utama banyak orang di Pontianak, Bogor dan tempat-tempat lainny di Indonesia. Selain sebagai koktail, Aloe Vera juga dibuat sebagai dodo, selai, kulit daunnya sebagai tea, shampoo, dan pasta gigi.
Manfaat Aloe Vera dibagi menjadi beberapa jenis kegunaan, yaitu :
1. Manfaat Aloe Vera untuk kulit wajah :
·       Mencerahkan kulit.
·       Obat untuk jerawat.
·       Masker untuk kulit wajah berminyak.
·       Antioksidan yang dimiliki Aloe Vera berkhasiat sebagai pencegah penuaan dini.
2. Manfaat Aloe Vera untuk rambut :
·       Melawan rambut rontok.
·       Kondisioner alami.
·       Mencegah kebotakan.
·       Pelembap alami.
3. Manfaat Aloe Vera pada bagian luar tubuh :
·       Luka bakar.
·       Bisul.
4. Manfaat Aloe Vera pada bagian dalam tubuh :
·       Sakit kepala.
·       Kejang pada anak.
·       Kurang gizi.
·       Batuk rejan.
·       Muntah darah.
·       Wasir.
·       Diabetes.
·       Membantu meningkatkan kekebalan tubuh.

Budidaya tanaman Aloe Vera telah dilakukan semenjak beberapa tahun yang lalu di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor terutama ke Negara Jepang. Jepang adalah Negara pengguna Aloe Vera terbesar di sunia, kebutuhan akan Aloe Vera segar mencapai 20 kontainer (300 ton per bulan). Kebutuhan ini dipasok oleh Brazil dan Thailand.  Melihat kebutuhan pasar ekspor yang besar tersebut, maka budidaya Aloe Vera merupakan usaha bisnis yang menggiurkan. Budidaya Aloe Vera tidaklah sesulit yang kita bayangkan, hal ini dikarenakan lingkungan tumbuh dari tanaman tersebut sangat cocok untuk dikembangkan di daerah tropis seperti Indoneesia. Hama yang menyerang Aloe Vera relative sedikit. Terkadang ulat dan belalang menyerang daun Aloe Vera. Pada keadaan lembab sering juga ditemui hama yang menyerang akar dan batang Aloe Vera, terutama saat pembibitan. Sedangkan penyakit yang menyerang terutama busuk basah akibat cendawan/bakteri pada daun. Penyemprotan pestisida hanya dilakukan bila serangan hama dan penyakit cukup mengganggu.

Diagram alur budidaya tanaman Aloe Vera



Sebelum melakukan budidaya tanaman Aloe Vera dilakukan penyiapan lahan untuk budidaya. Lahan disiapkan dalam keadaan telah dibajak dan digemburkan terlebih dahulu, kemudian dibuat saluran drinase dan bedengan. Bedengan dibuat dengan ukuran 1x2 meter dan tinggi 30-40 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Budidaya tanaman Aloe Vera dimulai dengan pembibitan terlebih dahulu, pembibitan dilakukan secara vegetative, bibit diambil dari tanaman induk berupa anakan dengan jalan dicongkel dan diusahakan agar akarnya tidak putus. Anakan yang telah didapatkan ditanam dalam polibag, lama pembibitan adalah 3-5 bulan. Setelah masa pembibitan barulah bisa ditanam di areal pembudidayaan. Bibit tanaman Aloe Vera ditanam dalam lubang dengan kedalamn kurang lebih 10cm. Pada waktu penanaman diusahakan agar tanaman Aloe Vera tidak berhimpitan dan daun tidak patah. Pemeliharaan tanaman Aloe Vera dilakukan dengan cara memasukan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 2-5 kg pada waktu 1-2 minggu sebelum ditanam. Kemudian setelah pasca tanam dapat diberikan pupuk Urea dan Furadan. Aloe Vera sudah dapat dipanen pada umur 8-12 bulan setelah ditanam. Panen berikutnya dilakukan setiap bulan. Pasca panen, pelepah Aloe Vera di bawa ke tempat penyortir. Setelah di sortir kemudian dibungkus dan selanjutnya dibawa ketempat pemrosesan lebih lanjut.

            Pengembangan budidaya Aloe Vera merupakan sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Hal ini disebabkan pemanfaatan tanaman Aloe Vera yang bukan sekedar tanaman berkhasiat obat tapi juga memiliki manfaat lain seperti sebagai bahan makanan dan minuman serta bahan baku kosmetika. Salah satu peluang usaha yang diciptakan dari tanaman Aloe Vera adalah pembuatan minuman Aloe Vera atau biasa disebut Nata De Aloe. Hasil olahan dari ini nantinya dikemas dalam gelas plastic (cup) dan dapat dipasarkan.

Berikut ini urutan proses pengolahan dan pembuatan Nata De Aloe :
1.     Pencucian daun Aloe Vera
Daun Aloe Vera yang telah dipanen, dicuci dengan air bersih agar kotoran yang melekat hilang. Selanjutnya, daun dikupas dengan menggunakan pisau tujuannya untuk memisahkan gel dengan kulit luar daun.
2.     Pemotongan
Daun Aloe Vera yang sudah dikupas, dipotong dadu dengan pisau, dan dimasukkan ke dalam tong plastic, kemudian hasil potongan tersebut dicuci 4-5 kali sampai bersih dari lender.
3.     Perendaman dengan larutan Asam Sitrat
Hasil potongan gel Aloe Vera direndam dengan larutan Asam Sitrat dalam tong plastic selam 3 hari dengan tujuan untuk menghilangkan lendir.
4.     Pencucian Gel
Gel yang telah direndam larutan Asam Sitrat dimasukkan dalam ember, dicuci 1 kali, lalu direndam dengan air garam selama 3 jam sambil dibersihkan dari sisa-sisa kulit yang belum bersih, lalu dicuci lagi 2-3 kali.
5.     Pemasakan
Panaskan air hingga 800c, lalu gel dimasukkan dalam panci selanjutnya dimasak selama 4 menit, angkat gel tersebut lalu di tiriskan. Selanjutnya siapkan air matang untuk menampung gel setelah dimasak.
6.     Pemanisan
Pemanisan dibuat dengan menggunakan gula pasir yang dicampur air kemudian direbus, selanjutnya dianginkan.
7.     Pengemasan
Gel yang telah siap kemudian dimasukkan dalam cup dan ditambahkan air gula, selanjutnya diseler atau cup ditututp dengan tutup plastic yang telah diberi label.
8.     Pensterilan
Pensterilan dilakukan dengan tujuan agar cup bersih dan bebas dari kuman, yaitu dengan cara cup direndam selama 5-10 menit.
9.     Pengepakan
Cup yang telah kering diberi sendok dan rapikan tutup plastic, selanjutnya dikemas dalam kardus, diisi 24 cup dalam setiap kardus.

Ternyata Aloe Vera juga dapat dibuat menjadi minuman segar (juice) dengan mengolahnya secara sederhana dirumah. Minuman segar (juice) Aloe Vera bermanfaat menyembuhkan sembelit. Berikut ini resep cara pengolahan dan bahan-bahan Aloe Vera menjadi minuman segar (juice) :
Bahan-bahan yang diperlukan :
o   Daun Aloe Vera
o   Jeruk nipis
o   Gula pasir
o   Strawberry
o   Apel
Cara membuat :
o   Ambil daun Aloe Vera segar. Pilih daun yang cukup tebal.
o   Cuci bersih daun Aloe Vera, kupas kulit daun hijaunya sehingga nampak daging Aloe Vera yang bening.
o   Potong daging daun Aloe Vera menjadi ukuran kubus.
o   Cuci dengan air hingga lendirnya hilang, kemudian dibilas dengan air bersih. Rendam daging lidah buaya dalam larutan asam, yang terbuat dari 1 liter air matang kemudian tambahkan 1 sendok makan perasan jeruk nipis selama 10menit. Bilas rendaman dengan air matang.
o   Masukkan daging daun Aloe Vera ditambahkan Strawbery, Apel, Gula, Air matang ke dalam blender. Blender hingga halus, lalu saring hasil juice tersebut. Bila perlu tambahkan es batu dan juice siap diminum.

Sumber     :
·       Citrabagus.wordpress.com/tanaman-lidah-buaya/
·       Tanaman Berkhasiat Obat Di Indonesia, Prof. HM Hembing Wijayakusuma, Pustaka Kartini, Jakarta, 1995, jilid 1, halaman 64.
·       Infotanam.blogspot.com/2013/07/untung-dengan-budidaya-lidah-buaya.html?m=1
·       Ramuan Tradisional Obat Diabetes, Dr.Setiawan Dalimartha, Penebar Swadaya, Jakarta 1996, halaman 82